Bidang Tanah Seluas 93 Hektar di Manulai II Milik Keluarga Toepitoe

Kuasa Hukum Keluarga Toepitoe, bersama alih waris Ana Maria Toepitoe, saat memberikan keterangan kepada wartawan/Foto: Haluan NTT

Kupang, HN – Bidang tanah seluas 93 hektar yang berlokasi di wilayah Kelurahan Manulai II, Kecamatan Alak, Kota Kupang merupakan tanah milik keluarga Toepitoe. Bukan milik kelurga Buan, Babis, maupun Kolo.

Ahli waris keluarga Toepitoe, Ana Maria Toepitoe, mengatakan, tanah seluas 93 hektar itu merupakan milik almahrum Habel J. A. Toepitoe, yang juga merupakan ayah kandungnya.

Usai ayahnya meninggal, Ana Maria Toepitoe kemudian diberikan kuasa oleh lima orang saudara kandunya, untuk menjadi alih waris atas bidang tanah itu, karena ia merupakan anak tertua dari almahrum Habel Toepitoe.

“Surat tanah itu atas nama Benyamin Toepitoe, kemudian turun ke Habel Toepitoe, kemudian diturunkan ke saya, karena merupakan turunan dari Habel Toepitoe, dan anak tertua dari keturunan ini,” tegas Maria Toepitoe kepada wartawan, Rabu 2 Maret 2022.

Menurutnya, kasus sengketa tanah itu berlangsung sejak lama. Dimana ada sejumlah suku lain, yang ikut mengklaim kepemilikan lahan, atas bidang tanah seluas 93 hektar itu.

BACA JUGA:  Isu OPM Bergejolak, Mahasiswa NTT Tidak Boleh Terpengaruh

Mereka kemudian malah menguasai berkhetar hektar bidang tanah itu, lalu menjualnya sesuka hati tanpa sepengetahuan Ana Maria selaku salah alih waris keluarga Toepitoe.

“Tanah itu mereka ambil seenaknya saja, lalu menjualnya tanpa pengetahuan kami. Dasarnya mereka itu serakah. Baru-baru ini ketahuan, Agus Buan menjual tanah seharga Rp1,5 Miliar rupiah,” tegasnya.

“Sebelumnya juga Agus Buan telah menjual tanah ke polisi dan pendeta tanpa sepengetahuan kami juga. Kalau sudah terjual, saya tidak mau tahu. Karena saya tahu saja bidang tanah itu masih utuh,” tegas Ana Maria menambahkan.

Ia menjelaskan, pihaknya telah melakukan mediasi sejak tahun 2019 silam, mulai dari tingkat Kelurahan, Kecamatan, hingga ke pihak BPN untuk membuktikan kepemilikan bidang tanah yang berkokasi tepat di Jalur 40 itu.

BACA JUGA:  Pemprov NTT Naikan UMP 2022, Ini Besarannya

Namun, kata dia, proses mediasi itu hingga kini belum menemui titik temu, karena pihak yang ikut mengkalim tanah tersebut, tidak mampu menunjukan bukti otentik terkait kepemilikan tanah itu.

“Kalau saya punya semua bukti kepemilikan. Bahkan Lurah, Camat dan masyarakat Kota Kupang pun tahu, bahwa bidang tanah itu memang milik keluarga Toepitoe. Bukan mereka punya,” terangnya.

Dijelaskan Ana Maria, jika mereka datang dan memintanya secara baik dan sopan, tentu pihaknya akan menerima dan berembuk secara keluarga, untuk mengambil keputusan, dan membagikan lahan itu kepada mereka.

“Tetapi justeru mereka malah merampas hak yang lebih dari kita, dan sudah menjualnya ke orang-orang. Sementara mereka tidak mampu menunjukan satu bukti otentik kepemilikan tanah itu. Lalu kami keluarga Toepitoe bagaimana?,” ungkapnya.

“Selama mediasi mereka tidak tunjukan bukti apapun. Yang bawah bukti hanya kami dari Toepitoe, dan mereka hanya tarik ulur dan membawa ke silsila keluarga. Saya tidak mau ditarik tarik ke suku,” tambahnya.

BACA JUGA:  Pemprov NTT Pastikan Pulau Semau Bergabung Kota Kupang

Ia menambahkan, keluarga Toepitoe memiliki bukti kuat terkait kepemilikan tanah dan pajak, serta alih waris tanah itu sudah dinotariskan. “Saya miliki semua bukti itu,” pungkasnya.

Sementara Kuasa Hukum Keluarga Toepitoe, mengatakan, untuk menentukan status sebuah tanah, maka dibutuhkan dokumen kepemilikan, seperti yang dimiliki Ana Maria Toepitoe, yaitu dibuktikan dengan pembayaran pajak setiap tahun.

“Jadi nanti hari Jumat yang menentukan. Siapa yang benar benar memiliki bukti kepemilikan tanah ini. Bukti semua akan diserahkan, lalu diperiksa oleh pemerintah, melalui Camat Alak. Dan bukti semua itu ada,” tegasnya.

Ia menegaskan, akan menjadi rumit, jika kita memiliki bukti kepemilikan fisik, tetapi justru dikuasai oleh orang lain. “Karena mereka bilang punya bukti, tetapi tidak pernah ditampilkan atau ditunjukan selama mediasi dilakukan,” pungkasnya. (*)

error: Content is protected !!