Sekolah Jam 5:30 Pagi Dinilai Ideal untuk Serap Ilmu Pengetahuan

KUPANG, HN – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah menerapkan kebijakan baru terkait masuk sekolah pukul 5:30 pagi di sejumlah sekolah negeri yang ada di wilayah Kota Kupang.

Kebijakan yang dikeluarkan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan dieksekusi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Linus Lusi, kemudian menuai sorotan ditengah masyarakat.

Pembina Yayasan Generasi Unggul Kupang, Pdt. Johny J. Kilapong, M.Pd.,CBC.,CLS mengatakan, masuk sekolah pukul 5:30 pagi merupakan waktu yang sangat ideal untuk siswa menyerap ilmu pengetahuan.

Menurutnya, berdasarkan kajian riset dari jurnal Scopus Q1, secara neurosains otak manusia memang sudah dirancang oleh Tuhan untuk betul – betul bisa beraktivitas di pagi hari.

“Jadi kalau omong tentang kajian Scopus Q1, semua akademisi pasti paham, dan tidak bisa dibantah dengan yang lain, apalagi yang lokal,” ujar Pdt. Johny kepada wartawan, Rabu 5 April 2023.

Dia menjelaskan, ketika manusia beraktivitas di pagi hari, tentu otak mereka belum terpakai, jadi serapan semua energi seratus persen full. Sehingga belajar siswa di pagi hari penyerapan lebih bagus daripada siang, sore atau malam hari.

“Kenapa dulu kecil kalau mau belajar selalu jam 4 pagi, dan merendam kaki dengan air. Karena kalau belajar siang atau sore hari tingkat penyerapan informasi mulai rendah, dan ditentukan oleh konsentrasi,” jelansya.

BACA JUGA:  Maknai HUT ke-9, Cakrawala NTT Gelar Pendampingan Menulis Bagi Ratusan Guru di TTU

Sementara dari sisi sikologi, kata dia, semua riset dari manapun, baik America, Asia dan Eropa membuktikan bahwa setiap orang yang beraktivitas atau belajar di pagi hari memiliki tingkat akademisi paling tinggi.

“Contoh, semua CEO seperti Elon Musk dan CEO Apple mulai bekerja pukul 4 pagi. Sehingga, sekarang kita lihat deretan orang terkaya pasti hanya mereka. Tidak ada yang lebih sukses dari mereka. Jadi orang yang kerja di pagi hari itu lebih produktif,” terangnya.

Pdt. Johny Kilapong menerangkan, dari sisi kesehatan, masuk sekolah pukul 5:30 pagi jauh lebih bagus. Dia mencontohkan di setiap Rumah Sakit (RS) yang selalu memandikan dan memberi sarapan untuk pasien pukul 5 pagi.

“Karena dari jam 5 pagi itu semua organ tubuh kita menyerap makanan mulai jam 5 hingga 7 pagi. Paling mentok itu jam 9 pagi,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, yang paling sulit dibangun dari sisi pendidikan adalah budaya. Sementara budaya unggul merupakan gerbang utama yang ahrus dibangun terlebih dahulu.

“Jadi budaya unggul itu paling sulit dibangun di pendidikan. Ketika pendidikan itu sudah budayanya unggul, maka otomatis masyarakatnya akan unggul juga. Sebab, semua masyarakat ini lahir dari pendidikan,” jelasnya.

Sehingga, kata Johny Kilapong, disiplin itu merupakan kunci utama yang harus dibangun. Dan bangun di pagi hari adalah kunci utama untuk menciptakan disiplin itu sendiri.

BACA JUGA:  Trobosan Cerdas UPG 45, Tawarkan Enam Program Studi Baru

“Jadi ketika orang disiplin, semua kunci dan potensi di buka semua. Tetapi kalau orang sudah malas, mau diajar apapun juga tidak bisa. Karena orang malas itu tidak bisa meng apply semua ilmunya dengan baik,” ungkapnya.

“Misalnya ada 5 siswa yang diajar, 4 diantaranya malas dan hanya satu yang disiplin, maka tentu 4 siswa itu tidak akan jadi apa – apa. Ilmunya mahal sekalipun akan dianggap murah, karena tidak dapat meng apply ilmunya,” tambahnya.

Dia menambahkan, jika dilihat di negara Jepang dan Singapura, semua orang memiliki budaya disiplin yang masing – masing. Dan itu terjadi di sekolah.

“Jadi kita jangan samakan dengan negara besar yang masuk sekolah pukul 9 pagi. Karena matahari terbit mereka pukul 7:43 pagi. Sementara di NTT pukul 5:43 pagi. Jadi sudah jelas, dan kita di NTT sangat cocok,” tandasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi menjelaskan, program masuk sekolah pukul 5:30 pagi merupakan bagian dari keputusan monumental, yang dilakukan untuk sebuah pergerakan jangka panjang.

“Kalau kita sudah mulai pukul 5:30 pagi, tentu harapan kita kedepan ada kesadaran kolektif yang masif dan kesadaran dari warga sekolah, baik di Kota Kupang maupun di Kabupaten. Dan ini butuh napas panjang,” jelasnya.

BACA JUGA:  Bantah Mesum di Sekolah, Kepsek Florince: Saya Punya Bukti dan Saksi

Dia menjelaskan, kondisi di Provinsi NTT memang agak berbeda, terutama untuk sekolah negeri. Namun, pihaknya tetap memberikan sebuah harapan baru sambil memperbaiki berbagai pandangan yang harus diperbaiki.

Linus Lusi menambahkan, SMA Negri 6 Kupang merupakan embrio awal untuk kebijakan serupa bisa diterapkan di sekolah – sekolah lain, tetapi tentu berdasarkan keputusan dewan guru dan orang tua siswa.

“Ini kan embrio awal. Kalau sekolah berdasarkan keputusan dewan guru dan orang tua siswa di setiap kabupaten, kenapa tidak bisa?. Sehingga semua punya rasa bertanggung jawab atas masa depan anak dan pembentukan nilai lain dari sebuah proses ini,” tandasnya.

Kepsek SMA Negeri 6 Kupang, Hendrikus Hati mengatakan, pihaknya sebagai pelaksana mendapat banyak informasi dari orang tua siswa, yang menyatakan dukungan dan mengapresiasi terhadap kebijakan tersebut.

“Karena anak – anak mereka sekarang sudah bisa bangun pagi, dan tidak keluyuran di malam hari. Sehingga ini sebuah hal sangat positif bagi kami untuk melaksanakannya lebih baik lagi kedepan,” ungkapnya.

Menurut Hendrik, hingga saat ini pihaknya belum menerima aduan atau protes dari orang tua siswa terkait kebijakan masuk sekolah pukul 5:30 pagi.

“Kalau soal kehadiran siswa, awalnya pasti agak susah. Tetapi dalam perjalanan sudah mulai bagus. Pada intinya sudah memberikan dampak yang sangat positif untuk siswa,” pungkasnya.***

error: Content is protected !!