Hukrim  

Siasat Licik Perekrut PMI Ilegal di Malaka, Akui Dibayar Rp5 Juta per Kepala

Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Aryasandi (Foto: Tribun Flores)

KUPANG, HN – Kepolisian Daerah (Polda) NTT melalui Polres Malaka berhasil ungkap terduga pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap puluhan Pekerja Migran Indonesia (PMI) non prosedural atau ilegal.

Terduga pelaku berinisial AK (45), berhasil diamankan aparat Polres Malaka di Kada, Desa Laekeun, Kecamatan Kobaloma, Rabu 7 Juni 2023 lalu.

Pengungkapan kasus TPPO berdasarkan surat pertah tugas Nomor SPRINGAS / 49 / VI / 2023 / Reskrim dan penjemputan terhadap AK berdasarkan surat perintah membawa dengan Nomor: SP.Bawa / 71 / VI / 2023.

Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Ariasandy mengatakan, penangkapan itu merupakan tindak lanjut dari atensi Kapolda NTT karena maraknya kasus TPPO di wilayah NTT.

BACA JUGA:  Usai Diperiksa, Bala Pattyona Beberkan Kondisi Kesehatan Lukas Enembe

“Dan Kabupaten Malaka tertinggi dari kabupaten lain. Sehingga aparat Polres Malaka bergerak cepat menangkap terduga pelaku perekrut PMI non prosedural,” ujar Ariasandy, Kamis 8 Juni 2023.

Menurutnya, setelah terduga pelaku ditangkap, ia kemudian mengakui, jika sejak bulan September 2021 hingga Juni 2022 bekerja sebagai perekrut calon PMI non prosedural di wilayah Kabupaten Malaka.

“Hingga sekarang dia sudah merekrut sebanyak 21 orang, terdiri dari 4 orang laki-laki dan 17 orang perempuan,” jelas Ariasandy.

Di menjelaskan, terduga pelaku juga mengakui bahwa ia sudah bekerjasama dengan seorang yang berdomisili di Malaysia bernama TOKE, yang siap menerima calon PMI non prosedural.

BACA JUGA:  Komplotan Pencuri Sapi di Kupang Segera Diadili di Pengadilan, Pimpinannya Pecatan Polisi

“Jadi yang bersangkutan diberikan upah dari TOKE selaku bos yang menerima calon PMI non prosedural sebesar empat juta hingga lima juta rupiah per orang,” ungkapnya.

Modus yang digunakan terduga pelaku yaitu mengajak para calon PMI bertemu langsung. Jika ada yang ingin bekerja, maka orang tua para calon PMI akan diberikan upah berupa uang sejumlah lima juta rupiah.

Setelah direkrut dan tiba di tempat tujuan, mereka akan diberi kerja sebagai cleaning service, baby sitter, pembantu rumah tangga dan pelayan restoran, dengan upah seribu dua ratus ringgit yang jika di rupiahkan maka berjumlah tiga juta sembilan ratus ribu rupiah perbulan.

BACA JUGA:  Puluhan Anak Antusias Ikut Sunat Massal Gratis dari Santri Dukung Ganjar NTT

Dengan demikian, pelaku telah melanggar aturan tentang TPPO yang mana diatur dalam Pasal 2 Ayat (1) dan Ayat (2) UU Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantas Tindak Pidana Perdagangan Orang.

“Hasil Introgasi oleh anggota Satreskrim Polres Malaka, yang bersangkutan telah mengakui semua Praktek Perekrutan Calon PMI yang berada di Wilayah Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka,” terangnya.

Sehingga, dibuatkan Laporan Polisi Model A dengan Nomor LP / A / 2 / VI / SPKT. SATRESKRIM / Polres Malaka / Polda NTT / tanggal 08 Juni 2023.

Selanjutnya akan dilakukan interogasi terhadap para saksi dan korban yang berada di wilayah hukum Polres Malaka untuk proses hukum selanjutnya.***

error: Content is protected !!