Maju DPR RI, Adolfina Koamesakh Siap Perjuangkan Aspirasi Rakyat di Senayan

Calon anggota DPR RI, Adolfina Elisabeth Koamesakh (Foto: Eman Krova)

KUPANG, HN – Adolfina Elisabeth Koamesakh menyatakan sikap untuk maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Partai Amanat Nasional (PAN).

Niat untuk memperjuangkan aspirasi rakyat NTT, Adolfina Koamesakh bertekad untuk berjuang ke Senayan melalui gelanggang Pemilu 2024.

Politisi PAN ini maju dari Dapil NTT II, meliputi Kabupaten Rote Ndao, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka, Sabu Raijua, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Menurut Adolfina, ketertarikannya untuk bertarung di Pemilu 2024 bukan tanpa dasar. Dia mengaku prihatin dengan kehidupan masyarakat, khususnya Dapil II, termasuk Rote Ndao yang adalah daerah kelahirannya.

Dia menjelaskan, untuk membangun sebuah daerah demi kesejahteraan rakyat bukan saja tugas dan tanggung jawab dari Pemerintah Daerah (Pemda).

“Tetapi harus ada kolaborasi dengan legislatif. Kalau satu saja tentu tidak bisa,” ujar Adolfina Koamesakh kepada wartawan di Kupang, Jumat 18 Agustus 2023.

BACA JUGA:  Pelaku Pencurian Baterai Solar Cell di Yayasan JPCC Kupang Diciduk Polisi

Kolaborasi antara eksekutif dan legislatif dinilai sangat penting, sehingga kebijakan anggaran yang dibuat oleh Pemerintah Daerah setempat dapat diketahui dan dipahami oleh legislatif.

“Kalau kepala daerah buat anggaran untuk daerah tetapi legislatif tidak memahami anggaran itu maka percuma. Akhirnya, anggaran itu tidak efektif dan tepat guna untuk masyarakat,” jelansya.

Sehingga, kata Adolfina, tujuannya untuk mencalonkan diri adalah ingin membangun sebuah kolaborasi yang baik antara eksekutif dan legislatif, sehingga pemerintah bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

“Agar anggaran yang ada itu bisa digunakan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ini sangat penting untuk digodok sejak awal,” ungkapnya.

Adolfina juga mengaku prihatin dengan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur, dimana provinsi ini merupakan daerah ketiga yang memiliki tingkat kemiskinan paling tinggi di negara Indonesia.

BACA JUGA:  Ganjar Tolak Timnas Israel, Netizen: 2024 Dukung Prabowo

“Secara nasional itu kita urutan ketiga sebagai provinsi termiskin. Statistik nasionalnya seperti itu. Jadi kita harus bisa bangkit,” terangnya.

Nusa Tenggara Timur, kata dia, banyak orang memiliki kemampuan intelektual yang tidak kalah hebatnya dari daerah lain di Indonesia.

“Kita memiliki sumber daya alam yang kaya. Tetapi apa yang salah? apakah pemerintah saja yang salah mengelola daerah ini?,” tegasnya.

“Sementara DPR melakukan tugasnya maksimal atau tidak? Jangan hanya duduk sebagai DPR karena punya uang. Tetapi harus membawa misi untuk daerahnya,” tambah Adolfina.

Dia mengingatkan masyarakat untuk membuka wawasan, bahwa orang yang mewakili mereka di lembaga dewan harus benar – benar memahami dan mengetahui kebutuhan dari masyarakat.

“Ini sangat penting. Masyarakat harusnya membuka wawasan bahwa wakilnya itu jangan asal asalan. Jangan masyarakat butuh lain, wakilnya tidak tahu,” ungkapnya.

Adolfina menerangkan, misalkan dari Dapil NTT II ada 7 orang dewan yang memiliki komitmen yang sama terhadap masyarakat, maka tentu daya ledak untuk membangun masyarakat jauh lebih eksplosif.

BACA JUGA:  Baliho Caleg Dirusak, PKN Kota Kupang Laporkan Kasat Pol PP ke Polda NTT

“Jadi kita butuh wakil yang tahu persis kebutuhan masyarakat dan harus berani menyuarakan dan memberikan ide konstruktif untuk pemerintah,” tegasnya.

Selain kemiskinan, Adolfina juga mengaku pentingnya untuk mengatasi faktor – faktor seperti kesehatan, ekonomi dan pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Ini menjadi pekerjaan rumah yang besar untuk NTT, karena paling tinggi itu ada di Dapil saya. Jadi kedepan faktor faktor ini pasti kita tuntaskan,” terangnya.

Dia mengingatkan para calon DPR untuk tidak menjadikan lembaga dewan sebagai tempat atau sumber penghasilan, tetapi harus bisa memperjuangkan aspirasi rakyat.

“Jangan berlomba – lomba jadi dewan sebagai sumber penghasilan. Tetapi harus perjuangkan kesejahteraan rakyat. Kalau mau jadikan sumber penghasilan, lalu rakyat dapat apa?,” pungkasnya.***

error: Content is protected !!