Adolfina Koamesakh Tegaskan Tidak Ada Perbedaan Gender dalam Pertarungan Politik

Calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Adolfina Elisabeth Koamesakh (Foto: Ist)

KUPANG, HN – Calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Adolfina Elisabeth Koamesakh menegaskan bahwa tidak ada perbedaan gender di dalam pertarungan politik.

Politisi PAN ini menolak membedakan kaum laki-laki dan perempuan dalam dunia politik. Semua calon, kata dia, harus fokus pada strategi untuk memenangkan suara rakyat tanpa memandang gender.

“Dalam pertarungan politik, laki-laki dan perempuan itu sama. Saya tidak suka membeda-bedakan,” ujar Adolfina kepada wartawan belum lama ini.

Meski demikian, kata Adolfina, jika dilihat dari perspektif sosial, ia mengakui bahwa kaum perempuan terkadang bisa dianggap lemah.

“Kalau dari segi sosial, saya melihat bahwa perempuan memang agak lemah,” ungkap Adolfina Koamesakh.

BACA JUGA:  Prabowo Umumkan Maju Capres di Pemilu 2024

Namun dalam pergerakannya, Adolfina mendukung agar kaum perempuan harus memiliki potensi dan nalar perjuangan yang setara dengan kaum laki-laki.

“Karena jika kita sudah mulai dengan gender, maka itu sebenarnya menunjukan bahwa kita perempuan itu lemah,” ungkapnya.

Ia percaya bahwa perjuangan dalam dunia politik seharusnya tidak dibedakan berdasarkan gender, tetapi lebih kepada kemampuan dan semangat individu.

“Dalam sebuah perjuangan, laki-laki dan perempuan itu sama. Bahkan kadang laki-laki lebih lemah dari perempan kalau soal perjuangan,” tegasnya.

Sehingga, Adolfina terus memotivasi dirinya agar tetap merasa setara dengan laki-laki dalam perjuangan politik, karena sejatinya tidak ada perbedaan gender di dunia politik.

BACA JUGA:  Mengaku Siap Jadi Capres, Ganjar: Tergantung Kepercayaan Partai

“Saya terus motivasi diri saya bahwa laki-laki dan perempuan itu sama. Tetapi, persoalannya, saat ini masih ada perempuan yang belum apa-apa sudah menuntut bahwa dia lemah jadi harus membutuhkan perlindungan UU,” ungkapnya.

Meski ada undang-undang yang melindungi perempuan, ia berpendapat bahwa perempuan juga bisa berhasil dalam berbagai aspek tanpa harus bergantung pada perlindungan hukum.

“Tanpa UU pun kaum perempan bisa survive secara pemikiran, strategi dan bagaimana menyelamatkan diri. karena kita memiliki volume otak dan naluri yang sama,” jelasnya.

BACA JUGA:  Gerindra NTT Konsisten Dukung Prabowo Subianto di Pilpres 2024

Dia menyoroti pentingnya memposisikan perempuan sebagai individu yang memiliki hak hidup dan hak untuk berpartisipasi dalam politik dan masyarakat.

“Kalau bicara perempuan hebat, maka pemerintah dan masyarakat luas harus melihat dan memposisikan perempuan sebagai kaum yang memiliki hak hidup,” ternagnya.

Ia menerangkan, saat ini posisi itu sudah diberikan pemerintah untuk kaum perempuan dengan memberlakukan kuota 30 persen bagi calon perempuan.

“Pencalonan sekarang untuk perempuan 30 persen. Kalau tidak maka tidak bisa lolos. Artinya negara sudah memberikan perhatian khusus,” pungkasnya.***

error: Content is protected !!